Transformasi Pesona Kalimantan dan Fesyen Berkelanjutan di Indonesia Fashion Week 2020

“Tales of Ecuator – Treasure of the Magnificent Borneo” dipilih Asosiasi Perancang dan Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) sebagai tema Indonesia Fashion Week (IFW) 2020. Lagi, ajang fesyen dan budaya yang bakal berlangsung pada 1–5 April 2020 di Jakarta Convention Center (JCC) ini mengangkat serba-serbi Kalimantan sebagai inspirasi utama.

“Wilayah Kalimantan kan luas sekali. Masih banyak yang belum terjangkau di IFW 2019. Setidaknya kami berencana (mengangkat Kalimantan) sampai (IFW) 2021,” kata Ketua APPMI Poppy Dharsono di bilangan Jakarta Selatan, Rabu, 9 Oktober 2019.

Sementara IFW 2019 mengangkat Bornero secara umum, Poppy menambahkan, IFW 2020 akan berkonsenterasi pada budaya suku Banjar, Dayak, dan Kutai. Ketiganya dipilih, lantaran dinilai merepresentasi mayoritas penduduk Kalimantan. 

Menurut Poppy, selain tekstil, Kalimantan juga sangat kaya akan ragam anyaman dan perhiasan mempesona yang sangat mungkin jadi inspirasi dalam berkarya.

Pesona salah satu pulau besar di Indonesia itu nantinya akan ditransformasi dalam bentuk ragam koleksi, serta aksesori oleh kurang lebih 200 perancang busana. “Mayoritas (desainer) lokal, tapi ada juga yang dari Italia, Malaysia, Myanmar, dan Thailand,” sambung Poppy.

Kategori busana yang ditampilkan nantinya adalah ready to wear, conventional, kontemporer, juga modest fashion. 

Di samping ekspolasi kekayaan tekstil, representasi karya yang terinspirasi dari pesona Kalimantan juga akan divisualkan lewat ragam aksesori tak kalah cantik.

Bakal ada 20–30 fashion show selama penyelenggaraan Indonesia Fashion Week (IFW) 2020. Di samping, terdapat pula ragam seminar, salah satunya tentang fesyen berkelanjutan, dan Young Designer Competition.

Selain konsisten memperkenalkan kecantikan Kalimantan dengan asa mempertahankan eksistensi budayanya, Indonesia Fashon Week (IFW) 2020 sebaga anggota United Nation (UN) juga turut mengangkat isu fesyen berkelanjutan.

“Miris soalnya karena fesyen jadi penyumbang sampah terbesar kedua di dunia,” kata Poppy.

Keputusan mengangkat isu tersebut merupakan upaya IFW unuk terus meningkatkan kesadaran akan fesyen berkelanjutan. Kosenterasi utamanya dalah mendorong desainer yang terlibat menggunakan material lebih ramah lingkungan.

“Yang paling terlihat itu di Young Designer Competition, Material harus sudah berkiblat pada fesyen berkelanjutan,” ujarnya.

Menurut Poppy, meningkatan kesadaran akan fesyen berkelanjutan seharusnya dimulai dari para desainer, di samping edukasi serupa juga harus terus diberikan ke publik.

Recommended For You

About the Author: Mr. Alvharezky

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *