Difteri Jadi Penyakit Langganan di Indonesia, Ternyata Ini Penyebabnya

Difteri kembali mewabah di Indonesia. Bahkan September 2019 lalu Dinas Kesehatan (Dinkes) Sumatera Utara (Sumut) menyatakan Difteri sudah masuk dalam Kejadian Luar Biasa (KLB) menyusul temuan seorang mahasiswi Universitas Sumatera Utara (USU) yang meninggal di RSUP H Adam Malik Medan akibat suspect difteri.

Indonesia nampaknya jadi pelanggan setia difteri. Data Kemenkes menyebut kejadian luar biasa difteri paling besar di Indonesia itu terjadi pada tahun 1990 dengan kurang lebih 2000 penderita.

Lalu 2017 juga difteri sempat mewabah di beberapa daerah. Dari tahun 1990 sampai tahun 2019, difteri sebenarnya tidak pernah hilang di Indonesia, sifatnya selalu endemis dan bisa muncul setiap tahun.

Hal itu diungkapkan mantan Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes RI dr. H. Mohamad Subuh, MPPM dalam wawancara khusus dengan VIVA.co.id beberapa waktu lalu. Pria yang kini menjabat Staf Ahli Menteri Bidang Ekonomi Kesehatan mengatakan bahwa penyebab utama difteri menjadi langganan di Indonesia adalah masalah imunisasi.

“Pertama, imunisasi tidak lengkap. Kedua, masih ada masyarakat yang tidak diimunisasi dengan berbagai macam sebab,” ujarnya.

Lebih lanjut ia mengungkapkan sebab penolakan yang terjadi biasanya karena agama, ketidaktahuan, hingga gagal paham.

“Makanya dengan berbagai sebab ini kita perlu benahi bersama, imunisasi rutinnya harus diperkuat,” ujarnya.

Tak hanya itu, ia juga berujar bahwa Peran pemerintah sangat berpengaruh terutama Pemerintah Daerah.

“Siapa yang harus memperkuat imunisasi rutin? Pemerintah Daerah, terutama dinas kesehatan di provinsi, Kabupaten/Kota. Kita dari pemerintah pusat melakukan teknikal asisten. Asistensi teknis penyiapan logistik dan juga penyiapan materi-materi yang ada. Karena yang melakukan operasional adalah teman-teman di provinsi, kabupaten/kota. Ini yang harus terus menerus dilakukan. Nah, jadi ini terjadi karena masih banyaknya masyarakat yang tidak imunisasi. Akibatnya terjadi imunisasi gap.”

Kalau kita mau terlindungi dengan baik menurutnya minimal 90 persen masyarakat harus terimunisasi.

“Artinya, 10 persen yang tidak imunisasi ini dapat tertolong oleh 90 persen yang sudah diimunisasi. Apabila yang diimunisasi hanya 80 persen, 70 persen akhirnya terjadi yang istilahnya backlock.”

Backlock ini adalah orang-orang yang tidak diimunisasi, terus tertinggal, dan semakin lama jumlahnya semakin besar. Inilah yang dapat menyebabkan difteri berkembang dengan cepat.

Recommended For You

About the Author: Mr. Alvharezky

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *